Cari Artikel

Bahaya Mengonsumsi Jangkrik Secara Berlebihan bagi Tubuh

Edu/Tech | 13 Jan 2026 23:48 WIB

Penulis: Riyadz Aqsha

Bahaya Mengonsumsi Jangkrik Secara Berlebihan bagi Tubuh
Sumber Gambar: Internal

Jangkrik dikenal sebagai salah satu serangga yang mulai dilirik sebagai sumber protein alternatif. Di beberapa daerah, jangkrik dikonsumsi sebagai camilan atau bahan olahan makanan karena kandungan proteinnya yang cukup tinggi. Meski demikian, di balik popularitasnya sebagai pangan alternatif, konsumsi jangkrik juga memiliki sejumlah potensi bahaya yang perlu diperhatikan.

Tren konsumsi jangkrik kerap dikaitkan dengan gaya hidup berkelanjutan dan upaya mencari sumber protein selain daging konvensional. Namun, tidak semua orang cocok mengonsumsi serangga ini. Tanpa penanganan dan pengolahan yang tepat, jangkrik justru dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi tubuh.

Berikut beberapa bahaya mengonsumsi jangkrik yang perlu diketahui masyarakat.

1. Risiko alergi yang cukup tinggi
Salah satu bahaya utama mengonsumsi jangkrik adalah risiko alergi. Jangkrik memiliki struktur protein yang mirip dengan udang dan kerang. Bagi orang yang memiliki alergi terhadap makanan laut, konsumsi jangkrik dapat memicu reaksi alergi seperti gatal-gatal, ruam kulit, pembengkakan, hingga gangguan pernapasan.

2. Potensi kontaminasi bakteri dan parasit
Jangkrik yang tidak dibudidayakan secara higienis berisiko membawa bakteri, jamur, atau parasit. Jika dikonsumsi tanpa proses pemasakan yang matang, mikroorganisme tersebut dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti diare, mual, muntah, hingga infeksi saluran cerna.

3. Kandungan kitin yang sulit dicerna
Jangkrik memiliki kandungan kitin pada rangka luarnya. Kitin merupakan serat keras yang sulit dicerna oleh sistem pencernaan manusia. Konsumsi jangkrik dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan perut kembung, nyeri perut, atau gangguan pencernaan lainnya, terutama bagi orang dengan lambung sensitif.

4. Risiko logam berat dan zat berbahaya
Bahaya mengonsumsi jangkrik juga berkaitan dengan kemungkinan paparan logam berat. Jangkrik yang hidup di lingkungan tercemar atau diberi pakan tidak aman berpotensi mengandung zat berbahaya seperti pestisida dan logam berat. Zat tersebut dapat terakumulasi dalam tubuh dan berdampak buruk bagi kesehatan jangka panjang.

5. Tidak cocok untuk kelompok tertentu
Tidak semua kelompok disarankan mengonsumsi jangkrik. Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan sistem imun lemah sebaiknya berhati-hati. Risiko infeksi, alergi, dan gangguan pencernaan pada kelompok ini dinilai lebih tinggi dibandingkan orang dewasa yang sehat.

6. Potensi gangguan pencernaan jika dikonsumsi berlebihan
Meski tinggi protein, konsumsi jangkrik secara berlebihan dapat membebani sistem pencernaan. Kandungan protein dan serat keras yang tidak seimbang dapat memicu sembelit atau gangguan metabolisme jika tidak diimbangi dengan asupan serat dari sayur dan buah.

7. Masalah keamanan pangan dan pengolahan
Bahaya lain mengonsumsi jangkrik berasal dari proses pengolahan yang tidak sesuai standar. Jangkrik yang hanya digoreng sebentar atau dikeringkan tanpa suhu yang memadai berisiko masih mengandung bakteri. Proses penyimpanan yang tidak tepat juga dapat menyebabkan jangkrik terkontaminasi ulang.

8. Dampak jangka panjang yang belum sepenuhnya diketahui
Meski sudah dikonsumsi di beberapa negara, dampak jangka panjang konsumsi jangkrik bagi kesehatan manusia masih terus dikaji. Kurangnya penelitian jangka panjang membuat konsumsi jangkrik secara rutin perlu dilakukan dengan kehati-hatian.

Meskipun memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, konsumsi jangkrik tidak bisa disamakan dengan sumber protein hewani lainnya yang sudah umum dikonsumsi. Masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua makanan alternatif otomatis aman bagi semua orang.

Jika ingin mengonsumsi jangkrik, pemilihan produk yang dibudidayakan secara higienis dan diolah dengan benar menjadi hal yang sangat penting. Pemasakan hingga matang sempurna dapat membantu mengurangi risiko kontaminasi bakteri dan parasit. Selain itu, konsumsi dalam jumlah terbatas lebih dianjurkan dibandingkan menjadikannya makanan utama.

Secara keseluruhan, bahaya mengonsumsi jangkrik perlu menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang baru mencoba pangan alternatif ini. Kandungan protein yang tinggi memang menjadi daya tarik, namun risiko alergi, gangguan pencernaan, hingga kontaminasi zat berbahaya tidak boleh diabaikan. Konsumsi yang bijak, selektif, dan tidak berlebihan menjadi kunci agar potensi risiko kesehatan dapat diminimalkan.

Lainnya Untuk Anda