#1
Wamen Stella Christie Bagikan Batasan Penggunaan AI Bagi Pelajar
Lifestyle | 26 Dec 2024 19:37 WIB
Internasional | 19 Dec 2024 20:16 WIB
Penulis: Mishbah Nur Ihsan al Hafis
Andalas-News (12/19) - Semenjak menghilang pasca serangan pemberontak Suriah, Al Assad muncul kembali ke pers. Sebelumnya, ia dikabarkan melarikan diri ke Rusia 8 Desember 2024 lalu. Rumornya, ia mendatangi Rusia untuk merundingkan lebih lanjut strategi dan taktik (stratak) terhadap kelompok pemberontak.
Pernyataan Al Assad disampaikan dalam postingan di Telegram Kepresidenan Suriah, tertanggal 16 Desember kemarin. Ia menyampaikan pernyataan tersebut saat berada di Moskow, Rusia. Melansir dari Reuters, sebelumnya Rusia memang memberi tempat tinggal bagi Asaad pasca operasi penggulingannya.
Dalam pernyataan tersebut, ia menyatakan bahwa selama masa pendudukan Islamist Hayat Tahrir al-Sham, ia masih merampungkan tanggung jawabnya hingga 8 Desember kemarin. Ia lalu memutuskan terbang ke Rusia untuk menyusun strategi dengan aliansi sekutu. Melansir laporan Reuters, ia mengatakan,
“Ketika pasukan teroris menyusup ke Damaskus, saya pindah ke Latakia berkoordinasi dengan sekutu Rusia kami untuk mengawasi operasi tempur.”
Karena situasi bertambah buruk bagi kubu Assad, ia menyatakan secara resmi kekalahan pasukan sekutu. Sumber Rusia menyebut pangkalan militer milik Rusia dikepung serangan kelompok pemberontak.
Pangkalan militer Rusia "diserang secara intensif oleh serangan pesawat tak berawak" dan "tanpa adanya cara yang layak untuk meninggalkan pangkalan tersebut, Moskow meminta agar komando pangkalan mengatur evakuasi segera ke Rusia,” kata Asaad dalam pernyataan itu.
“Sekarang jelas bahwa pasukan kami telah sepenuhnya mundur dari semua garis pertempuran dan posisi terakhir tentara telah jatuh", imbuhnya tanpa menjelaskan secara detail apa langkah yang ia tempuh setelah ini.
Sementara itu, seorang jaksa penuntut kejahatan perang internasional, menemukan bukti kuat yang mengindikasikan bahwa Assad telah melancarkan tindak kekerasan ke hampir 100.000 korban. Dengan ditemukannya bukti berupa kuburan massal di Qutayfah, Suriah semakin membuktikan indikasi pelanggaran HAM berat selama rezim Al Assad.
Menurut penuturan beberapa saksi, ditemukan bahwa kawasan tersebut memang dijadikan kuburan massal oleh rezim ini. "Ini adalah tempat yang mengerikan," kata seorang warga Qutayfah kepada wartawan Reuters.
Baca juga : Wamen Stella Christie Bagikan Batasan Penggunaan AI Bagi Pelajar
Baca juga : Praktik Pemalsuan Uang di Kampus Islam Makassar
28 Nov 2024 09:09 WIB
01 Dec 2024 14:46 WIB
02 Dec 2024 19:44 WIB
26 Dec 2024 19:40 WIB